13. Bimbingan Konseling

Motivasi Belajar
Sebagai ilustrasi, terjadi pada 3 (tiga) peserta didik yang mana peserta didik pertama yang tampak segan dalam belajar, karena tidak mengetahui kegunaan mata pelajaran sekolah. Hasil belajar peserta didik tersebut tergolong rendah. Seteleh guru memberi informasi tentang pentingnya kegunaan mata pelajaran, peserta didik tersebut mengubah perilaku belajarnya. Peserta didik tersebut tampak semakin rajin belajar dan hasil belajar akhir semester menjadi tergolong baik. Peserta didik kedua tampak segan belajar karena urusan pergaulan dengan teman sekolahnya. Awalnya peserta didik ke dua ini sangat rajin belajar dan termasuk siswa yang berprestasi dalam kelasnya. Tapi karena suatu hal, terjadi keretakan persahabatan dengan sahabat karibnya satu kelas. Keretakan hubungan tersebut mengubah perilaku belajarnya menjadi malas dan hasil belajarnya menurun. Setelah guru pembimbing menghubungi sekelas dan orangtua peserta didik tersebut, peserta didik tersebut mengubah perilaku belajarnya. Peserta didik tersebut tampak belajar lebih bersemangat, dan hasil belajarnya menjadi lebih baik. Peserta didik ketiga adalah peserta didik yang rajin dan bersemangat belajar tinggi. Padahal peserta didik tersebut juga mengalami keadaan yang mengganggu konsenterasi belajarnya, yang mana peserta didik tersebut berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga terpaksa masih tinggal bersama- sama keluarga orang tuanya (tinggal di rumah nenek). Namun demikian peserta didik tersebut mampu mengatasi gangguan dan hambatan belajarnya. Peserta didik tersebut menggunakan kesempatan jam istirahat untuk  belajar di perpustakaan, yang mana  pada saat yang sama teman-temannya ramai-ramai ke kantin. Dengan kesadaran yang tinggi tentang kondisi orangtua dan pentingnya masa depan, peserta didik ketiga selalu selalu pandai menggunakan waktu luang. Usaha yang dia lakukan ternyata tidak sia-sia, dia selalu  menduduki peringkat atas setiap penerimaan rapot.